Ibu adalah sosok paling penting bagi keluarga terutama untuk mendidik anak-anaknya, ibu juga termasuk sosok teman dikala hati ini sedang rapuh dan ibu juga sosok wanita paling hebat di dunia ini yang pernah ditemui oleh anak-anaknya.
Perkembangan zaman kurasa mengubah semuanya, saat ini zaman merubah sikap, gaya hidup, bahkan peran seorang ibu sekalipun. Yang kemudian peran seorang ibu lama-kelamaan hilang di mata anak-anaknya yang dulunya hanya mementingkan keluarga sekarang tak lagi, bahkan mereka lebih mementingkan gaya hidup yang fashionebel agar di pandang menawan orang lain. Lebih dari itu, mereka berlomba-lomba untuk mempercantik diri mereka yang memiliki kesan kebarat-kebarat, padahal kultur bangsa Indonesia sendiri menolak keras segal bentuk budaya luar yang tidak mencerminkan sosok dari peribuan.
Saya sebagai seorang anak sangat menyayangkan perubahan perilaku ibu dalam mengisi kemerdekaan ini. Yang seharunya sosok ibu memapu membentuk karakter generasi bangsa sebagai calon pemimpin masa depan yang menyadari akan kultur dan karakter bangsa Indonesia itu sendiri.
Memang perkembangan globalisasi tak bisa di bendung dan di filter karena kemudahan akses dan cepatnya penyebaran informasi dari negara satu ke negara lainnya. Akan tetapi, sebenarnya jika kesadaran dan kecintaan pada negara indoensia ada dalam diri setiap masyarakat Indonesia yang dalam hal ini adalah seorang ibu dan calon ibu semua itu bisa di hindari.
Seorang ibu yang ku kenal adalah sosok yang mampu mendidik kearah yang lebih baik, sosok seorang ibu ialah orang pertama yang dapat mencegah kenalan remaja, sosok seorang ibu adalah yang selalu memberikan cinta dan kasih kepada generasi penerus bangsa. Seperti halnya sosok sarinah yang mampu melahirkan sang revolusioner sejati atau kita kenal sebagai bapak proklamator indoensia yaitu adalah Bung Karno.
Melalui tulisan ini maksudku bukan untuk mengkritik secara personal, lebih dari itu ku ingin kita sadar bersama akan perubahan perilaku yang jauh dari makna yang sering kita rayakan, yaitu 22 Desember sebagai Peringakatan Hari Ibu. Di mana 22 Desember ini adalah kongres pertama kaum perempuan pada tahun 1928 yang pada saat itu kaum perempuan dan 30 organsisasi perempuan dari jawa sampai sumatera berkumpul untuk mempersatukan seluruh organisasi perempuan saat itu di dalam suatu badan federasi tanpa memandang latar belakang agama, politik, dan kedudukan sosial dalam masyarakat. Tentu hal ini untuk bagaimana kaum perempuan ikut andil dalam memperjuangkan hak-haknya yang tertindas oleh kolonialisme Belanda.
Di tetapkannya hari ibu pada tanggal 22 Desember menjadi momentum peringatan perjuangan kaum perempuan Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Yang pada saat itu, ibu atau kaum perempuan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan keluarga demi terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Hal utama yang di bahas dalam kongres perempuan pertama itu adalah tentang pendidikan, perkawinan, dan perlindungan perempuan dan anak-anak.
Dengan demikian, dalam memaknai hari ibu sudah tak semestinya kita sempitkan. Di momen peringatan hari ibu ke 92 tahun ini peran sosok ibu atau kaum perempuan menjadi penting dalam kemajuan suatu bangsa dan negara yang pancasilais yang di mana mampu melahirkan sosok-sosok pemimpin baru yang dapat menjadi penyambung lidah rakyat
Oleh :
Sarinah Elsa
(Anggota DPK GMNI Manajemen Latansa)

Komentar
Posting Komentar