BUNGA REVOLUSI DI ERA PANDEMI

Ilustrasi


Satu tahun menjalani hidup dengan berbagai kebiasaan yang dihilangkan itu bukanlah hal yang mudah. Ya, maret 2020 adalah pertama kali Covid-19 masuk ke Indonesia, saat itulah semua aspek kehidupan berubah. 
Perubahan ini membawa dampak yang cukup signifikan bagi kehidupan manusia, mulai dari ekonominya, hubungan sosial, hingga urusan personalnya dan yang lebih dikhususkan ialah persoalan yang menyangkut perempuan. 

Lagi-lagi persoalan perempuan yang di kaitkan, tentu penulis sendiri adalah seorang perempuan, dan saat ini kita sedang berada di dunia yang penuh diskriminatif, tidak ramah akan perempuan yang pada kenyatanya selalu tersisihkan. 

Lonjakann kasus yang terus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, apakah ini tidak menjadi perhatian bagi semua orang ? 
Dengan berbagai kasus yang menyangkut perempuan, kasus yang menempati posisi terbanyak ialah kekerasan di ranah pribadi, yaitu kekerasan terhadap istri, menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan.

Lihatlah betapa sesaknya ketika mendengar kasus kekerasan masih memihak kepada kaum sendiri. Bahkan dari banyaknya kasus yang disinyalir yaitu 2.389 yang paling dominan ialah kasus berbasis gender sebanyak 2.134 dan yang tidak berbasis gender/informasi itu sisanya. Bukankah Ini adalah bukti nyata bahwa seksisme masih relevan di masa sekarang. 

Menurut penulis memang sebagian besar dampak pandemi ini berpengaruh terhadap banyaknya kasus yang terjadi, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kekerasan, pengekangan, pembodohan itu sudah sangat melekat dengan perempuan sejak jaman dahulu. Budaya patriaki yang pejal, telah membuat keadaan krisis dalam jangka panjang. Namun, kalo bukan dengan alasan itu, kita bukanlah kaum yang kuat, tahan banting, yang selalu bergerak untuk memperjuangkan keadilan hak yang sama, bukan kah begitu ? 
Saat ini bukan hanya pengaruh eksternal (lingkungan) yang harus di waspadai, pengaruh internal (keluarga) juga sedang maraknya terjadi pada kasus kekerasan menurut catatan tahunan 2020. Kekerasan terhadap anak, terhadap istri, kekerasan terhadap mantan pacar, bahkan perkawinan anak dibawah umur yang selalu meningkat setiap tahunnya. 
Terbatasnya menjalin komunikasi pada masa pandemi ini adalah salah satu alasan yang membuat pengaruh buruk terhadap keberlangsungan hidup manusia, karena sulitnya mencapai akses untuk mendatangi pihak berwajib/ mengadu hal yang sedang dialami, dan tentu pula karena keterbatasan aktivitas dengan adanya aturan baru salah satunya Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Dalam hal ini, perempuan ialah kelompok yang rentan terkena dampak tersebut, karena banyaknya isu yang beredar mengenai kekerasan, meningkatnya angka pengangguran yang memicu maraknya cybercriminals, diskriminasi berdasarkan gender yang selalu melekat pada kaum perempuan. 

Penulis berharap Hal-hal yang seperti itu seharusnya sudah tidak terjadi lagi, bagaimana seksisme bekerja hingga saat ini sudah sepantasnya dihilangkan dan ditindaklanjuti. Kondisi dan situasi saat ini bukanlah hal yang mudah untuk meminimalisir lonjakan kasus tersebut, karena memang banyak kendala yang membuat sulitnya komunikasi, terbatasnya aktivitas sehari-hari sehingga lebih banyak menghabiskan waktu ditempat masing-masing dengan fasilitas seadanya. 

Penulis mempunyai harapan Besar agar semua orang terutama kaum perempuan sadar akan pentingnya menjaga diri dari banyaknya potensi ancaman dari eksternal maupun internal yang dapat membuat kita berada dalam situasi berbahaya di masa pandemi ini.
Terlepas dari itu semua, tetaplah menjadi seorang yang kuat dalam hantaman, seorang yang memperjuangan kaumnya dalam keadilan, perempuan hebat generasi bangsa yang berkualitas.


Oleh : Sarinah Nurlaila (Anggota DPK GMNI Manajemen)

Komentar